A. Kajian Budaya Organisasi
Budaya
organisasi adalah salah satu istilah yang samar-samar dalam perilaku
organisasional. Tetapi meskipun terdapat berbagai pertentangan tentang apa itu
budaya organisasi, sebagian besar orang mengenalinya seperti suatu cara hidup,
atau gaya, kepribadian organisasi, yang melibatkan kepercayaan-kepercayaan,
nilai-nilai, dan perilaku-perilaku organisasi, yang mengirimkan pesan kepada
orang-orang di dalam dan luar organisasi. Telah lama sumber-sumber pesan budaya
tersebut terkubur dalam-dalam lewat asumsi-asumsi yang disebarkan kepada
anggota-anggota organisasi, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 6.1.
Tentu saja,
banyak organisasi yang mempunyai lebih banyak gaya unik mereka sendiri
dibanding pihak lain. Tabel 6.1 memberikan daftar organisasi-organisasi yang
mempunyai kepribadian organisasional yang kuat dan jelas. Contohnya, Procter
& Gamble. Raksasa produk-produk untuk kosumen yang bertempat di Cincinnati
ini terkenal karena perhatian fanatisnya terhadap pelayanan mutu dan konsumen.
Demikian juga, 3-M mempunyai sebuah budaya yang sangat mendukung inovasi dan
pengembangan produk baru. Nilai-nilai organisasi nya diantaranya “kemajuan
kewirausahaan” dan pelestarian identitas individu.”
B. MODEL BUDAYA
ORGANISASI
Budaya
organisasi ternyata dapat dijelaskan pada sebuah novel. Model tersebut
menggambarkan budaya organisasi yang disesuailan pada jenis organisasi. Deal
dan Kennedy (2000) membuat sebuah model budaya yang berdasarkan pada karakteristik
dari empat jenis organisasi yang berbeda. Mekanisme nya adalah berdasarkan
seberapa cepat anggota organisasi menerima umpan balik (feedback) dan imbalan (reward)
setelah mereka melakukan sesuatu dan tingkat risiko (risk) yang mereka ambil.
Faktor utama
yang mendorong perilaku manusia serta membentuk budaya organisasi adalah umpan
balik secara umum dan imbalan spesifik sebagai perwujudan apakah mereka bekerja
dengan baik atau buruk. Jika umpan balik tersebut di berikan secara lansung
atau jangka pendek, hal itu akan dengan cepat memperbaiki perilaku yang salah/
tidak efektif dan dengan demikian akan membawa kepada sebuah budaya yang
konsisten (yang salah segera diingatkan dan yang tidak dapat bertahan dari
mekanisme itu akan pergi atau di pecat). Jika umpan balik diberikan dalam
jangka waktu yang lama, beberapa kesalahan akan dibiarkan tanpa dikoreksi.
Ketidakpastian (uncertainty) dan risiko adalah sesuatu
yang dibenci beberapa orang dan disukai orang lain. Dibenci Karena seringkali
ketidakpastian dan risiko membuat mereka menjadi was-was, tidak berani dan
akhirnya mundur, disukai karena hal itu justru mampu mendorong mereka untuk
mengembangkan diri. Ketika resikonya rendah, mungkin orang bersedia mengambil
resiko itu hingga batas ynag bisa diterima. Ketika tinggi, resiko itu harus
dikelola atau diterima. Perusahaan beresiko tinggi cenderung lebih melibatkan
orang yang dapat menimati saat-saat bertaruh dan berspekulasi.
Budaya work-hard play-hard
Budaya ini
memiliki umpan balikdan imbalan yang cepat tapi beresiko rendah, berdampak
pada:
1.
Stres yang timbul kerena banyaknya pekerjaan
daripada ketidakpastian
2.
Makin cepat berkerja,maka makin cepat pula
istirahanya/rekreasi
3.
Contoh =
restoran, perusahaan software
Budaya tough-guy
macho
Memiliki umpan
balik dan imbalan yanf cepat serte beresiko tinggi, berdampak pada :
1.
Stress ditimbulkan karena resiko yang tinggi dan
kemungkinan terhadap kerugian/keuntungan potensial
2.
Berfokus pada masa kini daripada masa depan
3.
Contoh: polisi,dokter bedah,atlet
Budaya proses
Memiliki umpan
balik dan imbalan yang lambat serta beresiko rendah,berdamoak pada:
1.
Tingkat stress yang rendah , lamban dalam
bekerja, merasa pekerjaannya aman dan nyaman . stress mungkin dapat tumbul dari
intrik politik internal dan kesalahan system
2.
Berfokus pada keamanan masa lalu dan masa depan
3.
Contoh: bank, perusahaan asuransi
Budaya bet-the-company
Memiliki umpan balik dan imbalan yang lambat tapi beresiko
tinggi,berdampak pada:
1.
Stress ditimbulkan karenan resiko yang tinggi
dan penundaan sebelum dipastikan apakah pekerjaannya sudah dibayar/dilunasi.
2.
Berpikir secaara jangka panjang, tapi seringkali
pekerjaan ekstra harus dilakukan uuntuk menjamin sesuatu berjalan sesaui dengan
rencana.
3.
Contoh : produsen pesawat terbang, perusahaan
minyak.
Nilai-nilai
budaya organisasi
Budaya
organisasi memiliki nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Menurut Robert
Hogan ,nilai-nilai pemimpin organisasi akan menentukan nilai-nilai budaya
organisasi itu sendiri. Berikut adalah 10 nilai-nilai budaya organisasi dilahat
dari asek nilai-nilai kepemimpinan:
1.
Recognition pemimpin dengan nilai recognition(
pengakuan yang tinggi mencari keteneran, pengakuan dan ujian dari orang lain
2.
Power pemimpin dengan nilai power(kekuasaan)
yang tinggi adalah pemimpin yang berorientasi prestasi , ingin membuat
perbedaan dan membuat semacam warisan bagi generasi berikutnya
3.
Hedonism pemimpin dengan nilai hedonimse yang
tinggi menyukai keberagaman dan keringan serta gemar menghibur orang lain.
4.
Altruism pemimpin dengan nilai altruism yang
tinggi cenderung suka membantu dan menyemangati orang lain.
5.
Affiliation pemimpin dengan niali afiliasi yang
tinggi menyikai interaksi social di manapun dan kapanpun
6.
Tradition pemimpin yang bernilai tradisi tinggi
mengahrgai wewenang tradisi, tugas dan kerja keras, serta akan menciptakan
sebuah budaya yang ditandai dengan formalitas, peraturan, dan prosedur yang
seragam
7.
Security pemimpin yang memiliki niali keamanan
(security) yang tinggi tidak menyukai pengambilan resiko dan menyukai menghargai
struktur dan prediktabilitas
8.
Commerce pemimpin dengan nilai peragangan
(commerce) yang tinggi termotivasi dengan keuntungan.
9.
Aesthetics pemimpin dengan nilai estetika yang
tinggi khawatir pada kualitas, tampilan dan rasa dari produk yang dihasilkan
10.
Science pemimpin dengan nilai sains/ilmu
pengetahuan(science) yang tinggi memiliki karakter yang logis, empiris(hanya
percaya pada data dan fakta), dan lebih memilih untuk membuat keputusan
berdasarkan data.
Proses sosialisasi budaya organisasi
Proses sosialisasi budaya khususnya ditunjukkan bagi calon karyawan baru
yang akan bergabung dengan perusahaan dan/atau anggota yang baru saja diterima
menjadi angota, karenan mereka belum mengenal budaya organisasi secara
komprehensif. Robbins(1994) menjelaskan pross sosialisasi budaya organisasi
dengn gambar sebagai berikut
Dari gambar diatas dapat dijjelaskan bahwa proses sosialisasi dimulai
dari tahap prearrival (kedatangan ) yang terjadi sebelum karyawan tersebut
bergabung dengan organisasi dan mereka datangn dengan serangkaian nilai-nilai,
sikap, dan tuntutan yang sudah ada . tahap encounter(perjumpaan) terjadi ketika
individu menghadapi persimpangan yag mungkin terjadi Antara harapan/bayangan
mengenai pekerjaan , rrekan kerja , atasan dan organisasi itu secara umu .
terakhir , anggota-anggota baru perjumpaan. Ini berarti dapat disebut melewati
ditemui masa perjumpaan .ini berarti dapat disebut melewati perubahan-
perubahan yang disebut tahap metamorphosis.
C. Peran Kepemimpinan Dalam Sosialisasi
Hal ini sejak awal telah diantasispasi oleh Crosby(1996). Ia menekankan
perlunya seoran pemimpin untuk memiliki afenada yang jelas yang menyangkut diri
dan organisasi sehingga ia tahu kemana arah yang dituju.
Pendapat diayas sesuai dengan steere, Jr (dalam Hesselbein,Goldsmith,
Beckhard,1996) , ia mengatakan bahwa bagian terpenting dari tugas seotan
pemimipin adalah bertanggung jawab dalam pembentukan dan pengembangan budaya
perusahaan , yang dilakukan dengan jalan mengidentifikasi dan mengkomunikasikan
nilai-nilai dan prinsip dasar yang memandukan jalnnya perusahaan dan
pembentukan keputusan organisasi, menetapkan perilaku yang menjadi contoh dari
nilai-nilai dan prinsip organisasi dengan memberikan teladan ,serta menguasikan
budaa perusahaan secara keseluruhan, mengenal dengan baik segi positih dan
negatifnya memperkuat nilai-nilai pada hal-hal yang diharapkan oleh organisasi.
Berikut adalah syarat agar budaya organisasi dapat dipelihara dengan baik
menurut susanto :
1.
Pemimpin harus selalu memberikan dorongan kepada
para manejer dan karyawan untuk mengimplememntasikan budaya perusahaannya dalam
setiap kegiatan penting, terutama yang berupa ritual/kebiasaan.
2.
Pemimpin harus dapat memberikan
keteladanan,terutama dalam lingkungan yang
bersifat paternalistic yang menempatkan seorang pemimpin sebagai figure sentral
. begitu juga dengan para manager sebagai figure sentral, begitu juga dengan
para manajer sebagai pemimpin suatu unit kerja yang dipimpinnya
3.
Perusahaan atai organisasi harus mampu
beradaptasi dengan subkultur yang ada ( yang tidak bertentangan dengan budaya
perusahaan ) dan ikut memperkaya main culture atai dominant culture di
perusahaan tersebut.
4.
Pemimpin dan para manajer memberikan bimbingan
agar kelompok yang memiliki subculture tertentu dapa memahami dan menoleransi
kelompok lain dengan subculture yang berbeda bahkan berusaha untuk membantunya
dalam memecahkan masalah yang dihadapi
5.
Pemimpin dan para manager senantiasa memberikan
menjelaskan dan menekankan bahwa perusajaan akan semakin kaya dan kuat karena
dibangun dengan beberapa subkultur yang ada diperusahaan .
Budaya kualitas
Untuk memahami
pengertian tentang kualitas hendaknya dipahami terlebih dahulu akar dari budaya
kualitas yaitu budaya organisasi, kerana budaya kualitas merupakan subset dari
budaya organisasi(Kujala & Ullrank, 2004). Dessler (2000) mendefinisikan
budaya organisasi sebagai system penyebaran kepercayaan dan nilai-nilai yang
berkembangan dalam suatu organisasi dan mengarahkan perilaku anggotanya.
Sedangkan
pengertian budaya kualitas menurut Goestsh dan Davis adalah system nilai
organisasi yang menghasilkan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan
dan perbaukan kualitas secara terus menerus . budaya kualitas terdiri dari
filisopo, keyakinan, sikap , norma, tradisi,prosedur dan garapa untuk meningkatkan
kualitas. Menurut Hardjosoedarmo (2004) pengertian budaya kualitas adalah pola
nilai-nilai, keyakinan dan harapan yang tertanam dan berkembang dikalangan
anggota organisasi mengenai pekerjaannya untuk menghasilkan produk dan jasa
yang berkualitas.
Karateristik
budaya menurut Tjiptono dan Diana(2001) adalah sebagai berikut :
1.
Perilaku sesaui dengan slogan
2.
Masukan dari pelanggan secara aktif diminta dan
digunakan untuk meningkatkan kualitas secara terus menerus
3.
Para keryawan dilibatkan dan diberdayakan
4.
Pekerjaan dilakukan dalam satu tim
5.
Manajer level eksekutif diikutsertakan dan
dilibatkan : tanggung-jawab kualitas tidak didelegasikan
6.
Sumber daya yang memadai disediakan dimanapun
dan kapanpun dibutuhkan untuk menjamin perbaikan kualitas secara terus menerus.
7.
Pendidikan dan pelatihan diadakan agar para
karyawan pada semua level memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
untuk meningkatkan kualitas secara terus menerus,
8.
Rekan kerja dipandang sebagai pelanggan internal
9.
Pemasok diperlukan sebagai mitra kerja
A.
Perubahan Budaya Organisasi
Mengapa
budaya organisasi harus berubah? Alasan yang pertama adalah karena hal itu
mutlak untuk dilakukan. Siapapun yang masih memperhatikan cara-cara lama maka
ia tidak akan bisa bertahan.Kedua, karena perubahan membawa pembaharuan. Dengan
mengubah diri sendiri/organisasi, maka kita tidak akan terasing dari dunia luar
sehingga dapat membawa pembaharuan. Alasan yang terakhir adalah karena
perubahan memberikan harapan . siapapun yang menjanjikan perubahan tentu memberikan
harapan, akan tetapi semuannya belum tentu mampu mengendalikan perubahan itu
sendiri
Disisi
lain, Atkinson(1987) dan brooten (1978) menyatakan definisi perubahan meruapak
kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan
sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku
individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahi yaitu
pengetahuan , sikap, perilaku, individu dan perilaku kelompok. Setelah suatu
masalah dianalisa tentang kekuatannya , maka pemahaman tentang tingkat-tingkat
perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna
Langkah-langkah
yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu :
1.
Unfreezing , merupakan suatu proses penyadaran
tentang perlunya, atau adanya kebutuhan untuk berubah. Atau upaya-upaya untuk
mengatasi tekanan-tekanan dari kelompok penentang dan pendukung perubahan .
status quo dicarikan , biasanya kondisi yag sekaran berlangsung(Status qou)
diguncang sehingga orang merasa kurang nyaman.
2.
Changing/movement, merupakan langkah tindakan
,baik memperkuat driving forcas maupun memperlemah resistenecs. Secara
bertahap(step by step) tapi pasti, perubahan dilaukan . jumlah penentang
perubahan berkurang dilakukan. Jumlah penentang perubahan berkurang dan jumlah
pendukung bertambah. Untuk mencapainya , hasil-hasil perbuahan harus segara
dirasakan
3.
Refreezong, membawa kembali kelompok kepada
keseimbangan yang baru ( a new dynamic eruilibrium). Jika kondisi yang
diinginkan telah tercapai ,stabilkan melalui aturan-aturan baru, system
kompensasi baru, dan cara pengelolaan organisasi yang baru lainnya. Jika
berhasil maka jumalh penentang akan sangat berkurang,sedangkan jumlah pendukung
makin bertamabah
a.
Shock, merupakan rasa keterkejutan, dibeberapa
kasus bahkan menyebabkan panic dan tidak dapat berbuat apapun, disebabkan oleh
ketidakcocokn Antara harapan dan kenyataan
b.
Denial atau penyangkalan, terjadi saat orang
sebanarnya tahu bahwa perubahan itu penting tetapi mereka masih melakukan
penyangkalan akan hal itu dan melakukan tindakan withdrawal atai pengunduran
diri sementara dari proses menunjukan perubahan . Di fase ini orang merasa
masih memiliki kemampuan untuk menghadang perubahan.
c.
Awareness terjadi saat orang sudah tahu bahwa
perubahan itu penting dan sudah merasa bahwa tinfakan penghadangan perubahan
adalah sia-sia
d.
Acceptance of reality, akhirnya orang bersedia
untuk melupakan masa lalu dan mulai nyaman terhadap proses perubahan
e.
Experimentation, yaitu mencoba-coba
pendekatan-pendekatan dan kemampuan baru. Meruapakan fase berlath, mencoba
melakuakan sesuatu dengan cara yang berbeda dari seelumnya. Mulai mendapakan
umpan balik yaitu keberhasilan representasi hasil umpan balik.
f.
Integration, mempraktekkan kemampuan dan
perilaku yang bari bedasarakan model dan teori yang baru diciptakan.
pada
dasarnya perilaku manusai lebih banyak dapat dipahami dengan melihat struktur
temapt perilaku tersebut terjadi dari pada melihat peribadian individu yang
melakukannya. Sofat structural seperti sentraliassi, formalisasi jauh lebih
erat hubungannya dengan perubahan dibandingkan kombinasi kepribadian tententu
di dalam organisasi
B.MAJAJEMEN
PERUBAHAN
Manajemen
perubahan sebagaimana diuangkapkan oleh potts dan Lamarsh adalah suatu proses
secara sistematisdalam penerapan pengetahuan,sarana dan sumber daya yang
diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak
dari proses perubahan tersebut.Terdapat pula 3 prinsip dasar dalam manajemen
perubahan yang merupakan rangkuman dari sebagai literature yang bisa menjadi
dasar kesuksesan manajemen perubahan yaitu 3


0 Comments